rubi hatiku

Sunday, December 11, 2005

Ayah.....

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya
kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat
ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai
berkerut-merut dengan badannya yang
terbongkok-bongkok, disertai suara batuk-batuknya.

Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya : "Ayah,
mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan
badan ayah yang kian hari kian membongkok ?" Demikian
pertanyaannya, ketika ayahnya sedang berehat di beranda.

Si ayah menjawab : "Sebab aku lelaki."

Anak perempuan itu berkata sendirian : "Aku tidak
mengerti"...

Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya
membuatnya termenung rasa kebingungan.

Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya
itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah
mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti
tentang lelaki." Demikian bisik Si ayah, yang membuat
anaknya itu bertambah kebingungan.

Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu
mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya : "Ibu,
mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya
kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi
demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang lelaki yang
benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu
memang akan demikian."

Hanya itu jawapan si ibu. Si anak itupun kemudian
membesar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga
masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah
ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya
menjadi membongkok?

Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian
itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat
lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang
terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian
kalimah sebagai jawapan rasa kebingungannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai
pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari
bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk
menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa
aman, teduh dan terlindung."

"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk
membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan
kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi
seluruh keluarganya."

"Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha
mencari sesuap nasi yang berasal dari titisan
keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar
keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia
mendapat cercaan dari anak-anaknya".

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan
membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia
merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi
keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup
kedinginan dan kesejukan kerana tersiram hujan dan
dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya
dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia
ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya
dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang
akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan
membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah,
walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan
kesakitan kerapkali menyerangnya".

"Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha
berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya,
didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun
tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya,
melukai hatinya.

Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan
perlindungan rasa aman pada saat dimana anak- anaknya
tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang
memberikan kenyamanan bila saat dia sedang
menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling
menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk
memberikan pengertian dan kesedaran terhadap
anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang,
walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak- katikkan
oleh anak-anaknya."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk
memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri
yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya,
isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa
menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup
baik suka mahupun duka, walaupun seringkali
kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan
yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri,
bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling
menyayangi."

"Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti,
bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya
fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar
keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan
badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan,
bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap
seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan
sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya,
kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai
pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga (seri /
penyokong ), agar dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang
dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya
tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari,
berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah
itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa,
ketika ayahnya berdiri si anak itu menggenggam
dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."

Note: Bila ayah anda masih hidup jangan sia- siakan
kesempatan untuk membuat hatinya gembira. Bila ayah
anda telah tiada, jangan putuskan tali silaturahmi
yang telah dirintisnya dan doakanlah agar Allah selalu
menjaganya dengan sebaik-baiknya. Amin."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home